Image default
Berita Terkini

Bukan Sekadar Canggih: Inovasi Korlantas Polri yang Terasa di Jalan

Jakarta — Di tengah percepatan transformasi digital pelayanan publik, satu pertanyaan kerap muncul di ruang publik: apakah teknologi yang dikembangkan benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat, atau hanya menjadi simbol kecanggihan institusi?

Pertanyaan ini dijawab secara tegas oleh Kakorlantas Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., melalui arah kebijakan yang konsisten menempatkan keselamatan sebagai tujuan utama setiap inovasi. “Yang kami kejar bukan canggihnya alat, tapi keselamatan masyarakat.”

Pernyataan tersebut bukan sekadar kalimat retoris. Ia menjadi fondasi moral dalam transformasi Korlantas Polri, khususnya dalam menghadapi dinamika mobilitas nasional yang terus meningkat menjelang Operasi Ketupat 2026. Teknologi dalam konteks ini tidak diposisikan sebagai simbol kemajuan semata, melainkan sebagai instrumen pelayanan yang harus benar-benar terasa di jalan raya.

Command Center KM 29 Korlantas Polri di ruas Tol Cikampek menjadi pusat integrasi teknologi dan pengambilan keputusan berbasis data. Dari ruang inilah ribuan kamera pengawas, sensor arus kendaraan, serta laporan petugas lapangan terhubung dalam satu sistem pemantauan real-time yang memungkinkan analisis situasi secara cepat dan akurat.

Fungsi Command Center KM 29 tidak hanya sebatas memantau. Ia menjadi pusat pengendalian yang mendukung pelaksanaan rekayasa lalu lintas, mendeteksi dini potensi kemacetan maupun kecelakaan, serta mengoordinasikan respons bersama instansi terkait. Integrasi data tersebut memungkinkan negara hadir lebih awal sebelum bangkitan arus kendaraan berkembang menjadi penumpukan panjang yang berisiko.

Di bawah kepemimpinan Irjen Agus, pendekatan ini tidak berhenti pada pembangunan sistem. Ia dilanjutkan dengan penguatan budaya kerja berbasis data. Keputusan tidak lagi hanya bertumpu pada pengalaman lapangan semata, melainkan diperkuat dengan analisis historis dan pemetaan risiko yang terukur.

Data yang Menyelamatkan Nyawa

Hasilnya dapat terlihat dari data resmi Korlantas Polri selama Operasi Keselamatan 2026. Angka kejadian kecelakaan turun sekitar 34,96 persen dibandingkan periode sebelumnya, sementara angka fatalitas menurun hingga 51,06 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa integrasi teknologi, edukasi, dan rekayasa lalu lintas berbasis analisis mampu memberikan dampak signifikan terhadap keselamatan publik.

Penurunan ini tidak dapat dilepaskan dari strategi pengawasan berbasis digital dan respons cepat yang dikoordinasikan melalui Command Center KM 29. Data pelanggaran dan kecelakaan dianalisis untuk menentukan prioritas pengamanan, penempatan personel, serta pendekatan edukatif yang lebih tepat sasaran.

Dalam berbagai kesempatan, Kakorlantas menegaskan bahwa setiap angka kecelakaan bukan sekadar statistik, melainkan representasi nyawa manusia. Karena itu, setiap keputusan harus berbasis data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pemanfaatan ETLE Drone Patrol Presisi menjadi contoh nyata bahwa inovasi Korlantas bukan sekadar proyek simbolik. Drone ini digunakan untuk memantau titik rawan kemacetan yang sulit dijangkau kamera statis, mendeteksi pelanggaran secara objektif melalui rekaman visual yang akurat, serta mengirimkan data secara real-time ke Command Center KM 29 untuk dianalisis lebih lanjut. Dengan sistem tersebut, pengawasan tidak lagi terbatas pada sudut pandang darat, melainkan mampu membaca pergerakan arus dari perspektif yang lebih luas dan strategis.

Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Irjen Agus, teknologi tersebut bukanlah tujuan akhir. Drone dan sistem ETLE dikembangkan untuk mendukung tercapainya keselamatan yang lebih tinggi. Penggunaannya diarahkan untuk mengurangi pelanggaran melalui efek pencegahan yang lebih kuat, meningkatkan kepatuhan masyarakat karena pengawasan menjadi lebih transparan, serta menekan angka kecelakaan dengan respons yang lebih cepat terhadap potensi gangguan lalu lintas. Dalam kerangka besar transformasi Korlantas, teknologi adalah alat, sementara keselamatan masyarakat tetap menjadi tujuan utama.

Apresiasi dan Legitimasi Publik

Inovasi Korlantas Polri juga mendapatkan legitimasi dari lembaga legislatif. Anggota Komisi III DPR RI, Machfud Arifin, menyampaikan apresiasi terhadap pemanfaatan teknologi digital yang dikembangkan Korlantas dalam mendukung kelancaran dan penegakan hukum lalu lintas. Apresiasi tersebut disampaikan saat kunjungannya ke Korlantas Polri pada 21 Januari 2026 dan dikutip dari rilis resmi korlantas.polri.go.id.

Dukungan ini menunjukkan bahwa transformasi digital Korlantas tidak dipandang sebagai agenda internal semata, melainkan sebagai langkah strategis dalam memperkuat sistem keselamatan nasional yang lebih modern dan akuntabel.

Apresiasi terhadap pemanfaatan teknologi juga datang dari pengamat politik dan filsuf nasional Rocky Gerung saat melakukan kunjungan langsung ke Command Center PJR Korlantas Polri di KM 29 pada 24 Desember 2025. Dalam kunjungannya tersebut, Rocky menyampaikan bahwa teknologi yang dimiliki Korlantas memungkinkan pemantauan titik-titik rawan kecelakaan dan potensi bottleneck secara real-time.

Ia menilai bahwa sistem tersebut membantu meminimalkan risiko kecelakaan, terutama dalam periode Nataru 2025/2026. Namun ia juga menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat dan keberhasilan tetap ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia di baliknya. Pernyataan ini selaras dengan prinsip yang selama ini disampaikan Kakorlantas, bahwa inovasi digital harus memperkuat kapasitas petugas, bukan menggantikannya.

Apresiasi terhadap kepemimpinan dan arah inovasi Korlantas juga datang dari PB HMI yang dalam rilis resmi di korlantas.polri.go.id menyatakan bahwa Kakorlantas menjadi teladan kepemimpinan dalam transformasi pelayanan publik berbasis teknologi. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi yang dilakukan tidak hanya mendapatkan pengakuan di tingkat pemerintah, tetapi juga dari elemen masyarakat yang melihat perubahan tersebut sebagai langkah positif bagi keselamatan bersama.

Teknologi yang Mendekatkan Negara dengan Masyarakat

Transformasi digital Korlantas Polri pada akhirnya bukan tentang membangun citra modern, melainkan membangun sistem yang bekerja secara nyata. Penurunan pelanggaran selama Operasi Zebra 2025 sekitar 16 persen dibanding tahun sebelumnya menunjukkan bahwa pendekatan berbasis teknologi dan edukasi mampu membentuk kepatuhan yang lebih baik.

Menjelang Operasi Ketupat 2026, dengan proyeksi pergerakan masyarakat yang mencapai lebih dari 140 juta orang, kesiapan sistem digital menjadi faktor kunci dalam menjaga kelancaran dan keselamatan arus mudik dan balik. Namun yang lebih penting dari sistem itu sendiri adalah bagaimana inovasi tersebut benar-benar dirasakan masyarakat di jalan.

Kakorlantas menegaskan bahwa inovasi tidak boleh berhenti di ruang kontrol. Ia harus hadir dalam bentuk perjalanan yang lebih aman, arus yang lebih lancar, dan risiko yang lebih terkendali. Di situlah makna sebenarnya dari inovasi yang tidak elitis: teknologi bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya.

Bukan Sekadar Canggih. Inilah pesan yang hendak ditegaskan dalam transformasi Korlantas Polri di bawah kepemimpinan Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. Legitimasi publik yang datang dari DPR RI, pengamat nasional, dan organisasi masyarakat menunjukkan bahwa inovasi tersebut dipandang sebagai langkah konkret, bukan simbolik.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah jumlah perangkat yang terpasang, melainkan jumlah kecelakaan yang berhasil dicegah dan rasa aman yang dirasakan masyarakat. Dari ruang kendali hingga jalan raya, inovasi Korlantas menemukan maknanya ketika keselamatan benar-benar terasa.

Related posts

Showroom Perdana Lepas Dibuka di Jakarta

admin

Kakorlantas: Pentingnya Kolaborasi Tangani Arus Bopuncur Saat Nataru

admin

Datuk Haji Mohd Zaidi Puji Program “Polantas Menyapa” sebagai Inovasi Humanis Korlantas Polri

admin

Leave a Comment